Program pendampingan hutan adat dengan pelatihan pengolahan HHBK di Mukim Blang Birah.
Program pendampingan hutan adat dengan pelatihan pengolahan HHBK di Mukim Blang Birah.

Peudada – Yayasan AGC berkerjasama dengan BPDLH yang difasilitasi oleh Yayasan SATUNAMA Yokyakarta pada akhir tahun 2024 melakukan serangkaian kegiatan pelatihan dalam pengelolaan dan pengolahan hasil hutan bukan kayu.

Salah satu kegiatan yang menjadi andalannya adalah dilakukannya pelatihan ayaman rotan pada tiga kemukiman di dalam Kecamatan Peudada.

Anyaman rotan dipilih atas usulan para mukim mengingat banyaknya bahan baku rotan tersedia di hutan adat mukim. Pelatihan dihadiri oleh anggota KUPS dan 3 mukim yang merupakan dampingan Yasasan AGC, juga dihadiri oleh Pihak TAPM P3MD Kabupaten Bireuen yang diwakili Dr. Jaswar.

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) adalah hasil hutan hayati yang berasal dari hutan, baik nabati maupun hewani, beserta produk turunan dan budidayanya, kecuali kayu. Hasil hutan bukan kayu merupakan salah satu sumber daya penting bagi masyarakat sekitar hutan dan dapat menjadi sumber pendapatan utama maupun kebutuhan sampingan bagi sebagian besar penduduk yang berada disekitar hutan. Adapun HHBK yang mempunyani nilai ekonomi tinggi yang ada dalam kawasan hutan adat adalah rotan, jernang, madu, akar kuning, akar tongkat ali, arum jeram serta keindahan landscape lainnya yang dapat menunjang untuk potensi wisata.

Salah satu hasil hutan bukan kayu yang sangat menonjol adalah rotan. Rotan merupakan salah satu tumbuhan hasil hutan non kayu yang banyak digunakan sebagai bahan anyaman untuk berbagai macam kebutuhan sehari-hari.

Akhir tahun 2024, Yayasan AGC selesaikan program pendampingan hutan adat dengan pelatihan pengolahan HHBK.
Program pendampingan hutan adat dengan pelatihan pengolahan HHBK di Mukim Krueng.

Pelatihan ayaman rotan yang dilakukan Yayasan AGC di tiga mukim dalam Kecamatan Peudada adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia dalam melakukan pengelolaan dan pengolahan hasil hutan bukan kayu.

Sehingga masyarakat bukan hanya melihat hutan sebagai penghasil kayu semata, melainkan masih banyak hasil hutan yg bukan kayu yang bisa dimanfaatkan. Dengan adanya kesadaran tersebut, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya pelestarian hutan dan lebih maksimal dalam memanfaatkan hasil hutan.

“Dengan membina masyarakat dalam kerajinan rotan, masyarakat akan melihat hutan bukan sebagai hasil kayu semata akan tetapi ada juga hasil lain yang bisa kita manfaatkan. Sehingga pemanfaat hutan dengan penebangan kayu didalam hutan dapat dikurangi dan akan memberi dampak positif dalam hal pelestarian hutan,” jelas Abu Suhaimi selaku Pihak Yayasan AGC.

Akhir tahun 2024, Yayasan AGC selesaikan program pendampingan hutan adat dengan pelatihan pengolahan HHBK.
Program pendampingan hutan adat dengan pelatihan pengolahan HHBK di Mukim Kuta Jeumpa.

Kegiatan pelathan ini dilaksanakan selama 3 hari mulai Tanggal 26 sampai dengan 29 Desember 2024 di tiga mukim dalam Kecamatan Peudada, yaitu Mukim Blang Mirah, Mukim Kuta Jeumpa dan Mukim Krueng. Pelatihan ini mendatangkan instruktur atau pelatih dari pihak pengrajin yang telah  berhasil dalam banyak membuat produk-produk andalan anyaman rotan dalam Kabupaten Bireuen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here