Padang Sabana Blang Raweu, Pidie Jaya Foto: dok instagram mt.raweu

Oleh : Ilhami

Blang Raweu merupakan kawasan padang sabana luas yang menjadi destinasi wisata tersembunyi di pegunungan Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi kehidupan satwa liar.

Hamparan ilalang hijau yang memenuhi perbukitan membuat Blang Raweu menyuguhkan pemandangan alam yang memikat. Kawasan ini menjadi habitat berbagai satwa liar, seperti rusa, gajah, harimau, dan satwa lainnya. Sepanjang tahun, Blang Raweu menjadi tempat berkumpulnya gajah liar yang hidup di sebagian kawasan hutan Ulu Masen.

Untuk mencapai Blang Raweu, pengunjung harus berjalan kaki selama sekitar tiga hingga empat jam. Pendakian dimulai dari Gampong Blang Awe, Kecamatan Meureudu, melewati perkebunan dan perbukitan yang ditutupi hutan lebat. Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat menyaksikan hutan yang masih asri, pepohonan besar, serta mendengar suara berbagai satwa liar.

Sejarah panjang Blang Raweu tidak terlepas dari sosok ulama kharismatik sekaligus panglima perang, Syekh Jalaluddin Faqih, yang lebih dikenal sebagai Tgk. Japakeh. Ia hidup pada masa Kerajaan Sultan Iskandar Muda. Blang Raweu menjadi salah satu pusat komando sekaligus tempat latihan militer pada masa itu.

Peninggalan Tgk. Japakeh yang masih bertahan hingga kini adalah Masjid Madinah di Gampong Dayah Krueng. Tidak jauh dari masjid tersebut terdapat makam beliau yang hingga kini masih menjadi tempat ziarah bagi sebagian masyarakat.

Blang Raweu dikenal sebagai habitat alami sekaligus jalur jelajah utama kawanan gajah Sumatera. Padang rumput yang luas dan aliran Sungai Meureudu menjadikan kawasan ini tempat bagi gajah liar untuk mencari makan, minum, dan berkumpul secara alami, jauh dari kebisingan permukiman manusia.

Blang Raweu juga berperan penting dalam menghubungkan koridor pergerakan gajah liar Sumatera di kawasan hutan Ulu Masen yang melintasi sejumlah kabupaten. Sebagian masyarakat meyakini kawasan ini sebagai salah satu jalur migrasi tradisional yang penting bagi keberlangsungan hidup satwa tersebut.

Kerusakan sebagian kawasan hutan Ulu Masen berpotensi meningkatkan konflik antara gajah dan manusia. Penyusutan hutan, perburuan, serta aktivitas ilegal menjadi sejumlah faktor yang dapat memicu konflik tersebut. Kondisi serupa terjadi di beberapa wilayah, antara lain Kecamatan Tangse, Keumala, Bandar Baru, dan Meureudu. Kerusakan perkebunan akibat konflik itu turut mengganggu perekonomian masyarakat.

Perlindungan dan pelestarian Blang Raweu beserta kekayaan keanekaragaman hayati hutan Ulu Masen menjadi hal penting dan tanggung jawab bersama. Pemerintah dan masyarakat memiliki peran utama dalam menjaga kawasan tersebut sebagai warisan alam bagi generasi mendatang.

(Penulis adalah Program Officer Landscape Ulu Masen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here