Yayasan Aceh Green Conservation (AGC) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama para pihak khususnya Pemerintah Kabupaten Bireuen dan Pemerintah Desa untuk membangun kesepahaman tentang pendanaan berkelanjutan dari dana desa dalam upaya mitigasi konflik gajah dan manusia di Kabupaten Bireuen, Selasa (06/12/2022).
FGD tersebut digelar di Sekretariat Yayasan AGC ikut dihadiri oleh, DPRK Bireuen, Perwakilan DPMPKB, DLHK, BAPPEDA, Dinsos, Unsur Camat, Pendamping Desa dan Perwakilan Pemerintahan Desa.
Dalam pertemuan tersebut AGC mendorong para pihak ikut melahirkan komitmen bersama untuk mendukung dan mengupayakan mitigasi konflik gajah dan manusia di Bireuen dapat dilakukan secara bersama-sama, termasuk pemerintahan Gampong.
Program manager Yayasan AGC, Baihaqi, mengatakan UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dijelaskan mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
Mitigasi merupakan tahap awal penanggulangan bencana alam untuk mengurangi dan memperkecil dampak bencana. Mitigasi adalah kegiatan sebelum bencana terjadi.
Sebagai upaya meminimalisir interaksi negatif gajah dan manusia yang juga sering disebut sebagai bencana non-alam, Konsorsium Aceh Hijau yang terdiri dari Yayasan AGC, Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), Forum Konservasi Leuser (FKL), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan Universitas Al Muslim telah membentuk kelompok masyarakat mandiri mitigasi konflik satwa gajah dan manusia di Bireuen.
“Kita telah membentuk tiga kelompok masyarakat mitigasi konflik gajah yang telah di SK-kan oleh Bupati. Kelompok ini telah dilegalkan melalui SK Bupati Bireuen nomor 432 tahun 2022 tentang Pembentukan Kelompok Mitigasi Penaggulangan Konflik Manusia dan Gajah Liar di Kabupaten Bireuen.” sebutnya
Selanjutnya, sambung Baihaqi, kita ingin mendorong pemerintah, baik pemerintah Kabupaten maupun pemerintah gampong untuk sama-sama berpikir kelanjutan atas kerja-kerja kelompok di masa yang akan datang termasuk dalam hal pendanaan.
Atas dasar itu, sebagai bagian membangun kesepahaman bersama tentang urgensi mitigasi interaksi negatif antara gajah dan manusia melalui pendanaan dana desa dan juga memberi dukungan untuk kerja-kerja kelompok mandiri mitigasi konflik gajah dan manusia kedepan.
“Dengan pertemuan tersebut Yayasan AGC mengharapkan akan melahirkan satu kesimpulan dan komitmen sebagai bagian upaya mitigasi konflik satwa gajah dan manusia,” pungkas Baihaqi.[]








